“Harta yang paling berharga
adalah keluarga
mutiara yang paling indah
adalah keluarga”
Penggalan syair di atas saya kutip dari theme song Keluarga Cemara. Serial
sinetron keluarga yang ditayangkan RCTI setelah acara Buletin Siang. Buat saya
dan juga mungkin Anda, syair lagu itu terasa menyejukkan hati. Betapa tidak,
syair itu menyeruak di tengah pengapnya atmosfer kehidupan kita oleh serbuan
lagu-lagu yang melulu menjajakan syahwat. Terus terang, saya menilai lagu itu
sarat dengan pesan moral. Plus tentunya, serial sinetron Keluarga Cemara memang
menjadi konsumsi tontonan yang relatif aman dan insya Allah ada manfaatnya bagi
anak-anak kita.
Saya tidak ingin menyoroti lebih jauh substansi cerita dan siapa tokoh di balik
sinetron Keluarga Cemara. Hanya saja ketika menyimak alunan syair “harta yang
paling berharga adalah keluarga”, saya jadi bertanya-tanya dalam hati: Masih
adakah masyarakat di zaman kiwari “di tengah gonjang-ganjing perlombaan manusia
memburu materi, peduli dengan “harta yang paling berharga” itu” Masih adakah
masyarakat kiwari yang mau mengapresiasi “mutiara yang paling indah itu”” Mereka
betul-betul menekuni dan berjuang keras membangun keluarga bahagia” Keluarga
sakinah”
Entah kita juga kian sangsi akan kepahaman masyarakat kita, tentang makna
keluarga sakinah. Keluarga di mana seluruh anggotanya memiliki visi dan
cita-cita yang sama tentang makna hidup. Keluarga yang berwawasan ketuhanan.
Keluarga yang berwawasan etika dan moral tauhid. Yang sama-sama memahami bahwa
keluarga adalah sebuah perjalanan panjang merekayasa peradaban masa depan
(future engineering).
Kemudian para anggota keluarga itu membangun team-work yang solid dan bahu
membahu saling menjaga satu sama lain, agar tidak ada satu pun di antara mereka
tergelincir ke dalam kesesatan. Pendek kata, mereka berusaha keras mencapai
tujuan mulia yang dicita-citakan bersama. Ah, jika demikian, betapa luhur
sesungguhnya perjuangan keluarga. Adakah keluarga kiwari di era globalisasi
memahami makna keluarga sejauh itu” Entahlah. Pantas saja bila Ivone J. Bach,
seorang sosiolog Jerman pernah bilang, “Bila ada surga di dunia, maka ia adalah
keluarga yang harmonis.”
Yang jelas di planet di mana kita berpijak sekarang, sukses orang sepertinya
melulu ditakar oleh materi. Orang sukses adalah mereka yang berpangkat,
berharta, dan berkuasa. Begitupun keluarga yang sukses adalah keluarga yang
bertempat tinggal di lingkungan elit. Bisa mengikuti gaya hidup ala metropolis.
Tidak gagap dengan teknologi shopisticated semisal internet. Sehingga bisa gaul
melanglangbuana di dunia maya ke seluruh penjuru bumi. Di dunia ini (internet)
lingkup gaul orang memang jadi tak terbatas. Tapi mereka –sadar atau
tidak-sesungguhnya telah terkotak-kotak menjadi orang yang egois. Sebab mereka
tak pernah memiliki empati dengan lingkungannya.
Soal hubungan dengan Tuhan” Itu tidak masuk dalam variabel kriteria keluarga
bahagia. Tuhan dan kebahagiaan memang sering didikhotomi masyarakat modern.
Sehingga sering kita saksikan pemandangan yang entah menggelikan, entah
memprihatinkan. Sebut misalnya, pak Ivan (bukan nama sebenarnya). Ia seorang
muslim yang tergolong sebagai penyimak setia acara tertentu di tivi.
Suatu maghrib ia masih asyik menonton acara kegemarannya. Tiba-tiba adzan
maghrib datang. Seorang anak laki-laki Pak Ivan yang masih usia SD segera
berlari menuju masjid dekat rumah. Anak lainnya yang perempuan masih di rumah,
bercanda dengan para anak tetangga. Agak gaduh suaranya. Pak Ivan yang merasa
terganggu keasyikannya menonton, kontan berseru, “Ayo jangan berisik, kalau mau
ribut di masjid saja sana!” Sementara ia sendiri tetap tinggal di rumah.
Barangkali dalam takaran pandangan masyarakat modern, Pak Ivan tergolong
lumayan. Karena masih ada anaknya yang mengenal masjid. Walaupun ia sendiri
tidak pernah peduli dalam mengarahkan anaknya menjadi cinta masjid. Tapi berapa
banyak para ayah yang mengaku muslim tapi sangat awam terhadap Islam” Bukan
hanya itu, mereka bahkan alergi dan pobia dengan Islam. Dengan kata lain, mereka
tidak pernah bersimpati dan berempati pada Islam dan kaum muslimin. Apalagi
bercita-cita untuk membangun team-work keluarga, lalu berusaha keras meniti
jalan sebagaimana yang dikehendaki Islam”
Agaknya telah muncul semacam kerancuan budaya yang kini berkembang di masyarakat
kita. Mereka yang bergelimang di dunia materi, termasuk kaum muslimin tentunya,
lalu melupakan Tuhan, ini mungkin tidak masuk dalam lingkup bahasan kita. Yang
akan kita soroti adalah betapa sayangnya mereka yang telah memiliki kesadaran
beragama (Islam) tapi memahaminya secara sangat awam.
Contoh kasus lagi misalnya. Seorang ibu muda mengantar anak perempuannya ke
sebuah TPA (Taman Pendidikan Alquran). Si anak yang mungil dan lucu itu
mengenakan busana muslimah rapi. Tapi si ibu yang mengantar sang anak, hanya
mengenakan (astaghfirullah”) celana pendek dan kaos T-shirt. Atau sebaliknya,
kasus seorang Ibu Haji (ia baru pulang dari Tanah Suci) yang berjalan dengan
anak gadisnya. Sang Ibu berbusana muslimah rapi. Tapi si anak mengiringinya
dengan bercelana jean ketat.
Kita khawatir bila ada pemahaman, bahwa selagi masih kecil, anak perempuan
dijaga pakaiannya. Tapi bila ia telah gadis, dibiarkan bebas berlenggak-lenggok
mengobral auratnya. Astaghfirullah.
Keluarga bahagia. Betapa idiom itu kian sulit saja kita cerna. Karena mungkin
kita telah terbiasa bersaing mengejar gengsi duniawi. Penyakit materialisme itu
memang laksana wabah ganas. Serangannya mematikan. Boleh jadi banyak keluarga
muslim yang tak mampu lagi mengelaborasi makna keluarga sakinah. Sampai-sampai
ajakan teman kepada keluarga kita untuk mempelajari Islam pun, tak jarang kita
tolak. Waktu biasanya selalu jadi kambing hitam. “Aduh maaf nih, belum ada
waktu!” Begitu alasan klasik kita.
Betulkah kita tak punya waktu untuk memahami Tuhan” Bukankah ini semata-mata
lantaran kita tak pernah menganggap Tuhan sebagai sesuatu yang sangat kita
pentingkan dalam hidup kita” Kenapa kita punya waktu luang begitu banyak untuk
selain Tuhan” Bahkan untuk sekadar be-a-ka (baca: buang air kecil) saja kita
pasti punya waktu, walau sesibuk apapun. Kalau begitu, bukankah sama saja kita
lebih mementingkan buang hajat ketimbang Tuhan” Astaghfirullah”..!
Kita yang mengaku muslim, walau sesibuk apapun, seyogyanya harus bisa
menyisihkan waktu untuk mengajak keluarga kepada Allah. Ia adalah harta kita
paling berharga yang harus kita pelihara sekuat tenaga. Kita harus mampu tampil
sebagai play-maker yang mengarahkan seluruh anggota keluarga kita untuk sujud
pada Allah. Dialah Sumber Kekuatan, Sumber Kebahagiaan. Keluarga kita harus
membangun akses yang kokoh dengan Yang Maha Memberi Kebahagiaan itu selamanya.
Agar keluarga kita menjadi keluarga sakinah.
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka
yang bahan bakarnya adalah manusia (yang kafir) dan batu (yang disembah). Di
atasnya ada malaikat-malaikat yang kasar lagi keras”.” (QS 66 : 6)
Yuk, kita jaga harta paling berharga itu dari jilatan api neraka. Bismillah.
Source : Eramoslem.com



Pada malam itu, Ana bertengkar dengan ibunya. Karena sangat marah, Ana segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Saat berjalan di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tdk membawa uang. Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi, tetapi ia tdk mempunyai uang.