Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Agustus, 2009

lengkap41“Harta yang paling berharga
adalah keluarga
mutiara yang paling indah
adalah keluarga”

Penggalan syair di atas saya kutip dari theme song Keluarga Cemara. Serial
sinetron keluarga yang ditayangkan RCTI setelah acara Buletin Siang. Buat saya
dan juga mungkin Anda, syair lagu itu terasa menyejukkan hati. Betapa tidak,
syair itu menyeruak di tengah pengapnya atmosfer kehidupan kita oleh serbuan
lagu-lagu yang melulu menjajakan syahwat. Terus terang, saya menilai lagu itu
sarat dengan pesan moral. Plus tentunya, serial sinetron Keluarga Cemara memang
menjadi konsumsi tontonan yang relatif aman dan insya Allah ada manfaatnya bagi
anak-anak kita.

Saya tidak ingin menyoroti lebih jauh substansi cerita dan siapa tokoh di balik
sinetron Keluarga Cemara. Hanya saja ketika menyimak alunan syair “harta yang
paling berharga adalah keluarga”, saya jadi bertanya-tanya dalam hati: Masih
adakah masyarakat di zaman kiwari “di tengah gonjang-ganjing perlombaan manusia
memburu materi, peduli dengan “harta yang paling berharga” itu” Masih adakah
masyarakat kiwari yang mau mengapresiasi “mutiara yang paling indah itu”” Mereka
betul-betul menekuni dan berjuang keras membangun keluarga bahagia” Keluarga
sakinah”

Entah kita juga kian sangsi akan kepahaman masyarakat kita, tentang makna
keluarga sakinah. Keluarga di mana seluruh anggotanya memiliki visi dan
cita-cita yang sama tentang makna hidup. Keluarga yang berwawasan ketuhanan.
Keluarga yang berwawasan etika dan moral tauhid. Yang sama-sama memahami bahwa
keluarga adalah sebuah perjalanan panjang merekayasa peradaban masa depan
(future engineering).

Kemudian para anggota keluarga itu membangun team-work yang solid dan bahu
membahu saling menjaga satu sama lain, agar tidak ada satu pun di antara mereka
tergelincir ke dalam kesesatan. Pendek kata, mereka berusaha keras mencapai
tujuan mulia yang dicita-citakan bersama. Ah, jika demikian, betapa luhur
sesungguhnya perjuangan keluarga. Adakah keluarga kiwari di era globalisasi
memahami makna keluarga sejauh itu” Entahlah. Pantas saja bila Ivone J. Bach,
seorang sosiolog Jerman pernah bilang, “Bila ada surga di dunia, maka ia adalah
keluarga yang harmonis.”

Yang jelas di planet di mana kita berpijak sekarang, sukses orang sepertinya
melulu ditakar oleh materi. Orang sukses adalah mereka yang berpangkat,
berharta, dan berkuasa. Begitupun keluarga yang sukses adalah keluarga yang
bertempat tinggal di lingkungan elit. Bisa mengikuti gaya hidup ala metropolis.
Tidak gagap dengan teknologi shopisticated semisal internet. Sehingga bisa gaul
melanglangbuana di dunia maya ke seluruh penjuru bumi. Di dunia ini (internet)
lingkup gaul orang memang jadi tak terbatas. Tapi mereka –sadar atau
tidak-sesungguhnya telah terkotak-kotak menjadi orang yang egois. Sebab mereka
tak pernah memiliki empati dengan lingkungannya.

Soal hubungan dengan Tuhan” Itu tidak masuk dalam variabel kriteria keluarga
bahagia. Tuhan dan kebahagiaan memang sering didikhotomi masyarakat modern.
Sehingga sering kita saksikan pemandangan yang entah menggelikan, entah
memprihatinkan. Sebut misalnya, pak Ivan (bukan nama sebenarnya). Ia seorang
muslim yang tergolong sebagai penyimak setia acara tertentu di tivi.

Suatu maghrib ia masih asyik menonton acara kegemarannya. Tiba-tiba adzan
maghrib datang. Seorang anak laki-laki Pak Ivan yang masih usia SD segera
berlari menuju masjid dekat rumah. Anak lainnya yang perempuan masih di rumah,
bercanda dengan para anak tetangga. Agak gaduh suaranya. Pak Ivan yang merasa
terganggu keasyikannya menonton, kontan berseru, “Ayo jangan berisik, kalau mau
ribut di masjid saja sana!” Sementara ia sendiri tetap tinggal di rumah.

Barangkali dalam takaran pandangan masyarakat modern, Pak Ivan tergolong
lumayan. Karena masih ada anaknya yang mengenal masjid. Walaupun ia sendiri
tidak pernah peduli dalam mengarahkan anaknya menjadi cinta masjid. Tapi berapa
banyak para ayah yang mengaku muslim tapi sangat awam terhadap Islam” Bukan
hanya itu, mereka bahkan alergi dan pobia dengan Islam. Dengan kata lain, mereka
tidak pernah bersimpati dan berempati pada Islam dan kaum muslimin. Apalagi
bercita-cita untuk membangun team-work keluarga, lalu berusaha keras meniti
jalan sebagaimana yang dikehendaki Islam”

Agaknya telah muncul semacam kerancuan budaya yang kini berkembang di masyarakat
kita. Mereka yang bergelimang di dunia materi, termasuk kaum muslimin tentunya,
lalu melupakan Tuhan, ini mungkin tidak masuk dalam lingkup bahasan kita. Yang
akan kita soroti adalah betapa sayangnya mereka yang telah memiliki kesadaran
beragama (Islam) tapi memahaminya secara sangat awam.

Contoh kasus lagi misalnya. Seorang ibu muda mengantar anak perempuannya ke
sebuah TPA (Taman Pendidikan Alquran). Si anak yang mungil dan lucu itu
mengenakan busana muslimah rapi. Tapi si ibu yang mengantar sang anak, hanya
mengenakan (astaghfirullah”) celana pendek dan kaos T-shirt. Atau sebaliknya,
kasus seorang Ibu Haji (ia baru pulang dari Tanah Suci) yang berjalan dengan
anak gadisnya. Sang Ibu berbusana muslimah rapi. Tapi si anak mengiringinya
dengan bercelana jean ketat.

Kita khawatir bila ada pemahaman, bahwa selagi masih kecil, anak perempuan
dijaga pakaiannya. Tapi bila ia telah gadis, dibiarkan bebas berlenggak-lenggok
mengobral auratnya. Astaghfirullah.

Keluarga bahagia. Betapa idiom itu kian sulit saja kita cerna. Karena mungkin
kita telah terbiasa bersaing mengejar gengsi duniawi. Penyakit materialisme itu
memang laksana wabah ganas. Serangannya mematikan. Boleh jadi banyak keluarga
muslim yang tak mampu lagi mengelaborasi makna keluarga sakinah. Sampai-sampai
ajakan teman kepada keluarga kita untuk mempelajari Islam pun, tak jarang kita
tolak. Waktu biasanya selalu jadi kambing hitam. “Aduh maaf nih, belum ada
waktu!” Begitu alasan klasik kita.

Betulkah kita tak punya waktu untuk memahami Tuhan” Bukankah ini semata-mata
lantaran kita tak pernah menganggap Tuhan sebagai sesuatu yang sangat kita
pentingkan dalam hidup kita” Kenapa kita punya waktu luang begitu banyak untuk
selain Tuhan” Bahkan untuk sekadar be-a-ka (baca: buang air kecil) saja kita
pasti punya waktu, walau sesibuk apapun. Kalau begitu, bukankah sama saja kita
lebih mementingkan buang hajat ketimbang Tuhan” Astaghfirullah”..!

Kita yang mengaku muslim, walau sesibuk apapun, seyogyanya harus bisa
menyisihkan waktu untuk mengajak keluarga kepada Allah. Ia adalah harta kita
paling berharga yang harus kita pelihara sekuat tenaga. Kita harus mampu tampil
sebagai play-maker yang mengarahkan seluruh anggota keluarga kita untuk sujud
pada Allah. Dialah Sumber Kekuatan, Sumber Kebahagiaan. Keluarga kita harus
membangun akses yang kokoh dengan Yang Maha Memberi Kebahagiaan itu selamanya.
Agar keluarga kita menjadi keluarga sakinah.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka
yang bahan bakarnya adalah manusia (yang kafir) dan batu (yang disembah). Di
atasnya ada malaikat-malaikat yang kasar lagi keras”.” (QS 66 : 6)

Yuk, kita jaga harta paling berharga itu dari jilatan api neraka. Bismillah.

Source : Eramoslem.com

Iklan

Read Full Post »

Wanita berusia 60 tahun itu dipanggil “Mbah” oleh anak jalanan Stasiun Lempuyangan. Aku mengenal Mbah sejak anak jalanan Stasiun Lempuyangan tidak dapat kutemui lagi berkeliaran di stasiun, dengan begitu tentu saja aku kesulitan untuk mengumpulkan mereka mengaji di masjid stasiun itu.

Seorang anak jalanan, Yudi mengantarku ke rumah Mbah, tidak jauh dari stasiun. “Sekarang anak-anak tidur di rumah Mbah…” lapor Yudi padaku. Sebuah rumah gubug dengan satu kamar tidur dan sebuah ruangan berukuran 2 x 3 meter menjadi satu dengan dapur. Di ruangan 2 x 3 meter itulah Mbah menampung anak-anak jalanan.

Sekitar sepuluh anak jalanan tidur di rungan sempit itu dan di ruangan itu pula dikemudian hari aku mengumpulkan anak jalanan untuk belajar Iqro’ setiap hari dan mendengarkan ceramah setiap bulannya. Yudi kemudian memperkenalkan aku dengan Mbah, seorang wanita yang masih kelihatan segar dan kuat di usia senjanya.

Mbah dengan segala keterbatasan dan keikhlasannya membuka lebar pintu gubugnya untuk anak jalanan yang membutuhkan tempat untuk berteduh, mengurus mereka seperti mengurus cucu sendiri, walaupun ia sendiri membutuhkan uluran tangan orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari yang selama ini bergantung dari pesanan kue tradisional jika ada tetangga yang hajatan.

Namun aku yakin, rezeki Allah Maha Luas apalagi untuk seorang yang berhati mulia seperti Mbah. Pernah suatu kali, Rahmat seorang anak jalanan yang diasuh mbah minta sedikit beras untuk diisi ke dalam botol yakult yang akan digunakannya untuk ngamen.

“Nggak ada beras” jawab Mbah.

“Sedikiiit aja Mbah…” pinta Rahmat dengan wajah memelas.

“Nggak ada beras, kalo nggak percaya lihat aja di situ”

Rahmat mencari beras ke tempat yang ditunjuk Mbah, dia terdiam setelah melihat tempat Mbah biasa menyimpan beras telah kosong, Aku lantas berfikir, kalau nggak ada beras berarti Mbah dan anak-anak hari ini tidak makan…tapi baru saja aku berfikir begitu, datang seorang laki-laki mengucapkan salam dan ditangannya ada sekotak besar nasi dan lauk-pauknya, ada hajatan katanya.

Subhanallah!

Begitu cepatnya pertolongan Allah datang kepada Mbah dan anak-anak yang kelaparan! Yang membuatku lebih terharu, Mbah langsung memanggil anak-anak untuk makan bersama, dan dalam hitungan detik kotak nasi itu telah dikerumuni anak-anak asuhan Mbah..

Suatu hari…Mbah sakit! Tiga hari tidak sadarkan diri. Panik, aku segera memanggil taksi dan membawa Mbah ke rumah sakit. Di ruang UGD Mbah mulai sadar, lisannya tak henti-henti mungucapkan kalimat thoyyibah. Dokter mendiagnosa penyakit Mbah, hipertensi dan magh kronis. Mbah harus dirawat di rumah sakit. Lima hari Mbah berdiam di rumah sakit, selama itu aku dan anak-anak bergantian menjaganya.

Setiap hari Mbah merengek minta segera dipulangkan karena takut biaya rumah sakit yang mahal. Seorang Ibu yang dirawat dalam satu bangsal dengan Mbah, dibawa pulang oleh anaknya karena sudah tidak kuat menanggung biaya rumah sakit sedangkan sakit ibunya tak jua menunjukkan kesembuhan.

Setelah Mbah kuyakinkan bahwa kesembuhannya-lah yang terpenting, hal itu memicu semangat Mbah untuk segera sembuh dan dalam tempo lima hari Mbah telah dinyatakan sehat. Untuk menutupi biaya rumah sakit, teman-teman kampusku memberikan sumbangan, dan untuk menutupi kekurangannya kujual perhiasanku. Semua itu belumlah sepadan dengan apa yang selama ini Mbah lakukan…

Ketulusan, cinta, kasih sayang yang ia berikan untuk anak-anak yang bukan dari darah dagingnya sendiri. Dan semua itulah yang sesungguhnya sangat dibutuhkan oleh mereka, anak jalanan. Kasih sayang dan perhatian Mbah, bukan hanya untuk anak jalanan, tapi juga untukku.

Sebagai anak kost yang jauh dari orang tua dan keluarga, kasih sayang dan perhatian Mbah bagaikan air yang menyejukkan. Setiap kali aku datang ke rumah Mbah untuk mengajar anak-anak, Mbah tak pernah lupa menyuguhkan segelas teh hangat untukku, kalau ada, disertai makanan kecil sekadarnya.Jika tidak ada, Mbah hanya menyuguhkan segelas air putih. Apabila sehari saja aku tidak datang, Mbah sibuk mencariku.

Ketika tangan kiriku patah akibat kecelakaan, Mbah tak pernah berhenti memikirkanku. Dengan penuh harap Mbah memohon padaku agar ia kuperbolehkan ikut ke kost untuk merawatku hingga tanganku sembuh, atau kalau tidak, Mbah minta agar aku membawa baju-baju kotorku ke rumahnya agar dapat ia cuci.

Suatu kali, aku berkata pada Mbah, “Mbah, kalau kuliah saya selesai, saya harus pulang. Mbah ikut saya ya…”. Mbah terdiam, lantas berkata, “Kalau Mbak sudah nikah aja Mbah ikut, ngerawat anaknya Mbak…”.

Aku begitu terharu mendengarnya, dan berjanji dalam hati, kalaupun aku harus pulang ke daerah asalku, suatu saat nanti ketika aku menikah aku akan kembali ke Yogya untuk menjemput Mbah, mengajaknya tinggal bersamaku. Beberapa bulan setelah itu… setelah wisuda, aku datang ke rumah Mbah dengan membawa sedikit oleh-oleh. Aku bermaksud memberinya kabar gembira bahwa aku telah berhasil lulus sekaligus berpamitan pulang ke daerah asal…namun bukan Mbah yang kutemui, melainkan anaknya.

Dengan hati-hati anaknya mengatakan padaku bahwa Mbah telah meninggal dunia sebulan yang lalu karena ditabrak kendaraan ketika menyeberang jalan…sekujur tubuhku lemas.terngiang kembali perkataan Mbah, “Kalau Mbak sudah nikah Mbah ikut Mbak…” tak disangka itu pertemuan kami yang terakhir, dan mungkin keinginan Mbah yang terakhir…tapi mbah tak pernah lagi dapat kutemui apalagi tinggal bersamaku.. walaupun aku telah menikah dan kembali ke Yogya,

Mbah tak pernah tinggal bersamaku seperti keinginannya dahulu. Satu pelajaran yang kudapat dari Mbah, selalu ikhlas menolong orang lain meskipun dalam keadaan sempit..

Read Full Post »

Sudah kewajiban seorang muslim berwudhu (bersuci) sebelum sholat. Sudah pasti tidak sah seseorang yang sholat tanpa berwudhu. Nah, suatu hari saya dan seorang sahabat hendak sholat berjamaah, kemudian saya bertanya pada diri sendiri dengan suara pelan, “Eh, sepertinya saya masih punya wudhu dan belum batal. Nggak usah wudhu ah.”

Mendengar suara saya tersebut, sahabat di sebalah saya berujar datar, “Wudhu lagi, biar yakin.”

Saya berkeras, “Saya yakin kok belum batal. Saya tidak menyentuh wanita, juga tidak buang angin.”

Sahabat saya menimpali, “Yakin? Yakin tidak bicara kasar sejak setelah sholat siang tadi? Yakin tidak berpikir negatif sejak beberapa jam tadi? Yakin tidak mendengar gunjingan?..”

Wah, terkejut saya mendengar ucapannya. Sungguh saya tidak berpikir sedalam itu. Sahabat saya hanya bicara datar, tanpa penekanan, tanpa tanda seru, tanpa mata terbelak, tetapi sungguh sangat dalam maknanya.

Bagaimana mungkin saya melupakan hakikat bersuci sebelum sholat, seperti yang diutarakan sahabat tersebut? Bagaimana bisa sedangkal itu pemahaman saya tentang bersuci? Yang batal hanya karena tersentuh atau menyentuh lawan jenis, atau tidak sah wudhu setelah ‘buang angin’?

Bersuci hakikatnya ada pada jiwa, bukan semata fisik. Sebab jika hanya persoalan fisik, seseorang yang tidak keluar rumah, tidak berinteraksi dengan orang lain, yang tidak beranjak ke mana-mana setelah mandi pagi, tentu tidak kotor tubuhnya. Tetapi berwudhu tetap wajib untuknya, karena memang setiap basuhan dimaknakan pada kebersihan jiwa.

Setiap bagian tubuh yang dibasuh dalam rukun berwudhu, hendaknya dimaknakan pada kebersihan hati, pikiran, kekotoran mata, telinga, tangan dan kaki bukan pada fisiknya, melainkan pada jiwa yang menjalari semua aktivitas kehidupan seseorang.

Akhirnya, berwudhu lah saya. Sekaligus membersihkan pikiran yang dangkal ini… terima kasih sahabat…

Read Full Post »

Hujan rintik-rintik tiba-tiba mengguyur kawasan kampus di kota saya. Saya bergegas masuk ke sebuah warung bubur langganan para mahasiswa di depan fakultas teknik sebuah PTN. Di sudut warung tersebut, seorang lelaki berkumis sedang begitu santai menikmati segelas kopi dan sebatang rokok kretek. Saya duduk tak begitu jauh darinya.

Ketika hujan mulai lebat, laki-laki itu memarkir sepeda untanya lebih dekat ke warung tersebut, agar tumpukan kardus dan kantong semen tidak basah. Setelah sebelumnya dengan amat sopan dia meminta izin kepada si pemilik warung bubur.

Ia memperkenalkan dirinya kepada saya sebagai seorang pemulung, dan di samping menjadi tukang pemungut barang-barang bekas, ia kadang juga memanfaatkan sedikit keahliannya sebagai seorang pemijat. Ia bercerita panjang lebar tentang sejarah hidupnya.

“Mas, ” katanya kepada saya. “Beberapa waktu lalu, saya ini ditawari suatu pekerjaan dengan gaji sehari empat ratus ribu rupiah, diberi fasilitas motor baru, handphone sekaligus pulsanya sekalian. Tapi saya menolak pekerjaan itu.”

Saya sempat terbelalak mendengar penuturannya. Dengan perasaan yang masih heran, saya mencoba bertanya lagi. “Pekerjaan seperti apakah itu pak, kok begitu menggiurkan dan bapak sendiri menolaknya.”

“Kurir sabu-sabu, ” jawabnya bersemangat. “Lebih baik usus saya nempel di perut karena lapar daripada harus menjadi bagian dari pekerjaan haram. Saya lebih mulia menjadi seorang pemungut kardus dan kantong semen daripada ke empat anak saya makan barang tidak halal.”

Saya makin serius mendengarkan kalimat-kalimat indah yang meluncur dari sosok yang amat sederhana ini. Ia juga bercerita panjang lebar tentang situasi dan kondisi kontemporer. Tak ketinggalan ia juga bicara soal musibah yang seolah tak kan pernah berhenti mengguncang negeri ini.

Sekali-sekali terdengar juga ia mengkritisi tingkah polah manusia pada umumnya. Tak hanya pemimpin, dan kaum cerdik pandai yang ia kritisi, tapi rakyat jelata seperti kamipun tak lepas dari kritikannya.

Ia tampak menyesal sekali ketika melihat di ibukota negara, -yang kata dia- adalah tempat berkumpulnya orang-orang pinter, orang-orang yang gelar akademiknya sampai satu meter, tapi kenapa dalam menangani flu burung saja, mesti unggasnya yang dibantai?

Ia mengajak kami untuk mempelajari hadits Nabi tentang lalat yang beracun. “Ketika lalat itu masuk ke dalam minuman, dan hanya satu sayapnya saja yang tenggelam, maka Nabi memerintahkan agar meneggelamkan sayap yang satunya lagi. Sebab di sayap yang satu itu ada penawar racun.” Ujarnya bersemangat.

“Barangkali, dalam tubuh unggas itu justru ada penawar untuk flu burung.” Tambahnya, sambil menghimbau para pakar kesehatan dan peternakan untuk lebih intensif lagi meneliti tentang hal ini.

“Lantas, ” tanya saya. “Menurut bapak, solusi apakah yang paling tepat untuk mengatasi negri yang makin hari makin parah ini.”

“Tak ada lain Mas, kecuali kita harus cepat-cepat bertaubat kepada-Nya. Kita harus membuka kembali kitab-kitab yang diturunkan Allah kepada kita.”

Saya hanya tersenyum sambil melihat wajah bersih laki-laki yang seolah begitu nikmat menjalani hidup ini, walaupun hanya berkendaraan sepeda unta yang tua dan pekerjaannya hanya menjadi tukang pungut kardus dan kantong semen.

Saya, pemilik warung bubur yang asli Kuningan, dan seorang mahasiswa yang sedang melahap bubur, terangguk-angguk diberi mata kuliah dari seorang pemulung sederhana itu. Saya sebenarnya ingin lebih lama lagi berbincang dengan dia, sayang waktu makin merambat sore. Saya makin rindu saja dengan sosok sederhana yang ternyata sarat ilmu kehidupan itu.

Read Full Post »